BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Candi Prambanan
Akhir-akhir ini perkembangan candi di Indonesia belum menampakan hasil yang mengecewakan dengan jumlah pengunjung yang selalu menurun setiap tahunnya.
Agar pengembangan candi tersebut meningkat, hal yang harus ditingkatkan yaitu tentang pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengetahuan sejarah masa lalu, serta kebersihan, keindahan situs-situs bersejarah lainnya, sehingga dapat diharapkan partisipasi mereka dalam menjaga kebersihan serta keasrian candi agar tetap terpelihara.
Dengan demikian candi prambanan ini bisa ditingkatkan daya tariknya agar masyarakat Indonesia serta masyarakat internasional berminat mengunjungi candi prambanan untuk mengetahui sejarah-sejarah yang ada di negara kita. Dalam hal inipemerintah pusat dan daerah perlu berjuang keras agar candi nasional menjadi tujuan objek pariwisata bagi wisata domestik dan mancanegara untuk mengetahui sejarah nasional dan dunia..
Pada era globalisasi ini, banyak orang menilai pelajaran sejarah merupakan hal yang tidak penting.Mereka berpendapat bahwa sejarah itu hanyalah suatu peristiwa yang sudah lewat. Bahkan, bayak juga yang memanfaatkan sejarah atau cagar budaya, untuk diperjualbelikan atau
ditukar hanya untuk keuntungan semata. Salah satu faktanya adalah pencurian benda purbakala
di beberapa wilayah Indonesia yang marak terjadi akhir-akhir ini. Hal ini merupakan hal yang

1
sangat tidak baik dan tentu akan mengancam keberadaan benda purbakala yang menjadi fakta penting dari sejarah peradaban pada zaman prasejarah dan sejarah.

Jika hal ini dibiarkan, maka situs atau benda purbakala tersebut akan terancam. Dengan hilangnya benda-benda tersebut, akan mengakibatkan generasi bangsa Indonesia berikutnya tidak dapat mengenali jati dirinya sendiri, padahal sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. lmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk

kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.

2

1.2 Identifikasi Masalah

Perlu peningkatan daya tarik terhadap budaya sejarah masa lalu Indonesia agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya sejarah masa lalu negaranya, terutama candi Prambanan yang dahulu merupakan sejarah atau legenda dari Loro Jonggrang.ini merupakan tugas pemerintah untuk membikin program yang lebih menarik untuk mengatasi permasalahanyang berlangsung selama ini.

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan dengan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapatlah dirumuskan pokok permasalahan. Antara lain :

1. Bagaimana daya tarik candi Prambanan meningkatkan wisata domestik dan mancanegara.

2. Seberapa besar minat masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Indonesia.

3
Penelitian ini akan dibatasi oleh hal-hal yang bersifat pengetahuan tentang sejarah pada candi Prambanan yang menjadi tempat sejarahnya Loro Jonggrang.

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ini yaitu :

1.Mengenal lebih lanjut tentang sejarah masa lalu candi Prambanan.

2.Membangkitkan minat wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara untuk berwisata di candi Prambanan.

3.Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dalam bidang sosial dan budaya.

4.Melatih diri dalam menyusun suatu masalah kedalam bentuk tulisan.

5.Belajar mencintai dan melindungi warisan budaya bangsa.

6.Salah satu syarat dalam mengikuti ujian sekolah dan ujian nasional.

7. Untuk mengetahui langkah-langkah menjaga dan melestarikan salah satu Candi di indonesia yaitu Candi Prambanan.
8. Untuk mengetahui langkah-langkah kepedulian masyarakat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Candi Prambanan.

4

1.4 Manfaat Penelitian
1. Agar mengetahui langkah- langkah menjaga dan melestarikan salah satu Candi di indonesia yaitu Candi Prambanan.
2. Agar mengetahui langkah-langkah kepedulian masyarakat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Candi Prambanan
3. Agar kita untuk selalu menjaga merawat dengan sebenar-benarnya

1.5 TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tinjauan tentang pariwisata dan tinjauan teori tentang perencanaan dan perancangan Pusat Kawasan Wisata Candi Prambanan sesuai referensi yang relevan.
1.6 HIPOTES
Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna ‘Rumah Siwa’), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

5
Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogartayak.Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.
Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.
Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram

6
1.7 METODOLOGI PENELITIAN

1.1. Objek Kegiatan : Candi Prambanan 1.2. Subjek Kegiatan : Sumber-sumber buku dan informasi dan internetyang berhubungan dengan Candi Pramban 1.4. Lokasi : Terletak di Pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 kmSelatan Semarang persis di perbatasan antaraprovinsi Jawa Tengah dan Daerah IstimewaYogyakarta.

7
BAB II
DESKRIPSI PELAKSANAAN PENELITIAN
2.1 Sejarah Candi Prambanan
Candi Prambanan merupakan kelompok candi yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka 856 M “Prasasti Siwargrarha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar.Prasasti Siwargrarha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan tidak diketahui asalnya, kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Prasasti ini mulai menarik perhatian setelah J.G. De Casparis berhasil menguraikan dan membahasnya. Menurut Casparis ada 3 hal penting dalam prasati tersebut, yaitu: Bahasanya merupakan contoh tertua prasasti yang berangka tahun yang ditulis dalam puisi Jawa kuna; Isinya memuat bahan-bahan atau peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat penting dari pertengahan abas ke IX M; Didalamnya terdapat uraian yang rinci tentang suatu “gugusan candi”, sesuatu yang unik dalam epigrafi Jawa kuna.Dari uraian diatas yang menarik adalah peristiwa sejarah dan uraian tentang pembangunan gugusan candi. Peristiwa sejarah yang dimaksud adalah peperangan antara Balaputeradewa dari keluarga Sailendra melawan Rakai Pikatan dari keluarga Sanjaya.Balaputeradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatera.Konsolidasi keluarga raja Rakai Pikatan itu kemudian menjadi permulaan dari masa baru yang perlu diresmikan dengan pembangunan suatu gugusan candi besar.
8
Gambaran tentang gugusan candi seperti yang disebut dalam prasasti Siwargrarha dapat dibandingkan dengan kompleks candi Prambanan, gugusan candi yang dibangun pusatnya dipagari tembok keliling dan dikelilingi oleh deretan candi perwara yang disusun bersap hanya terdapat pada candi Prambanan.Disebutkan pula candi Perwara sama dalam bentuk dan ukuran.

Hal lain yang menarik adalah 2 buah candi Apit, masing-masing didekat pintu masuk utara dan selatan.Keterangan mengenai gugusan candi yang terletak didekat sungai mengingatkan pada gugusan candi Prambanan dengan sungai Opak di sebelah baratnya dan jika dari jarak antara sungai Opak dan gugusan candi Prambanan dan adanya pembelokan aliran sungai kemungkinan pembelokan tersebut terjadi diantara desa Klurak dan Bogem. Dengan demikian, tampaknya uraian yang terdapat dalam prasasti Siwargrarha tentang gugusan candi tersebut lebih cocok dengan keadaan candi Prambanan.

Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah Prambanan, kondisi ini semakin parah dengan terjadinya gempa bumi dan beberapa kali meletusnya Gunung Merapi yang menjadikan candi Prambanan runtuh dan meninggalkan puing-puing batu yang berserakan. Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar.

9

Candi Prambanan dikenal kembai saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar.Usaha pertama kali untuk menyelamatkan Candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu.Pada tahun 1902 baru dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma.Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang.Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan Candi Brahma dan Wisnu.Setelah mengalami berbagai hambatan, pada tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar.Candi Brahma mulai dipugar tahun 1978 dan diresmikan 1987.Candi Wisnu mulai dipugar tahun 1982 dan selesai tahun 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi perwara yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut / patok.

Kompleks candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Dinasty) Sanjaya pada abad ke-9.Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur, dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter. Agama Hindu mengenal Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Shiwa sebagai Maha Dewa sehingga dapat disimpulkan candi

10
Prambanan merupakan candi Shiwa. Candi Prambanan atau candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Loro Jonggrangberkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung, putri Prabu Boko, yang membangun kerajaannya diatas bukit di sebelah selatan kompleks candi Prambanan.

Usaha pertama kali untuk menyelamatkan candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang.Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan pemugaran diselesaikan oleh bangsa Indonesia, tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar dan secara resmi dinyatakan selasai oleh Presiden Dr. Ir. Sukarno.

Pemugaran candi di wilayah Prambanan terus dilaksanakan, diantaranya yaitu pemugaran candi Brahma dan candi Wisnu.Pemugaran candi Brahma dimulai pada tahun 1977 dan telah selesai dan diresmikan oleh Prof Dr. Haryati Soebandio tanggal 23 Maret 1987.Candi wisnu mulai dipugar pada tahun 1982 selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 27 April 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut.

11
2.2 Objek Yang Terdapat Pada Candi Prambanan
A.Objek Pada Candi Prambanan
Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, berketinggian 47 meter, dibangun pada abad 9.Letaknya berada 17 km arah timur Yogyakarta di tepi jalan raya menuju Solo. Candi yang utama yaitu Candi Siwa(tengah), Candi Brahma (selatan), Candi Wisnu (utara). Didepannya terletak Candi Wahana (kendaraan) sebagai kendaraan Trimurti; Candi Angkasa adalah kendaraan Brahma (Dewa Penjaga), Candi Nandi (Kerbau) adalah kendaraan Siwa (Dewa Perusak) dan Candi Garuda adalah kendaraan Wisnu (Dewa Pencipta).
B.Relief Pada Candi Prambanan
Pada dinding pagar langkan candi Siwa dan candi Brahma dipahatkan relief cerita Ramayana , sedangkan pada pagar langkah candi Wisnu dipahatkan relief Krisnayana. masuk candi Siwa dari arah timur belok ke kiri akan anda temukan relief cerita Ramayana tersebut searah jarum jam, relief cerita selanjutnya bersambung di candi Brahma.
Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang dapat dinikmati bilamana kita berperadaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat cansi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu.Cerita itu berlanjut pada pagar langkan candi Brahma yang terletak di sebelah kiri (sebelah selatan) candi induk.Sedang pada pagar langkan candi Wishnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah utara) candi induk, terpahat relief cerita Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan Dewa Wishnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia.
12
Bilik candi induk yang menghadap ke arah utara berisi parung Durga, permaisuri Dewa Shiwa, tetapi umumnya masyarakat menyebutnya sebagai patung Roro Jonggrang, yang menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari putri cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso, untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam.
Candi Brahma dan candi Wishnu masing-masing memiliki satu buah bilik yang ditempati oleh patung dewa-dewa yang bersangkutan.
Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana (kendaraan) ketiga dewa tersebut. Ketiga candi itu kini sudah dipugar dan hanya candi yang ditengah ( di depan candi Shiwa) yang masih berisi patung seekor lembu yang bernama Nandi, kendaraan Dewa Shiwa.
Patung angsa sebagai kendaraan Brahma dan patung garuda sebagai kendaraan Wishnu yang diperkirakan dahulu mengisi bilik-bilik candi yang terletak di hadapan candi kedua dewa itu kini telah dipugar.
Keenam candi itu merupakan 2 kelompok yang saling berhadapan, terletak pada sebuah halaman berbentuk bujur sangkar, dengan sisi sepanjang 110 meter.
Didalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah utara dan yang lain berdiri di sebelah selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sedut

13
Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindu sebagai halaman paling sacral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi halaman dalam 3 baris.

14

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1.Jenis Berdasarkan Agama
Candi Jawi yang bersifat
paduan Siwa-Buddha tempat pedharmaan raja Kertanegara.
A. Berdasarkan latar belakang keagamaannya, candi dapat dibedakan menjadi candi Hindu, candi Buddha, paduan sinkretis Siwa-Buddha, gapura Bajang Ratu, candi Tikus, candi Wringin Lawang.
1. Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Panataran, dan candi Cangkuang.
2. Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibo, candi Sumberawan, candi Jabung, kelompok candi Muaro Jambi, candi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal.
3. Candi Siwa-Buddha, candi sinkretis perpaduan Siwa dan Buddha, contoh: candi Jawi.
15
4.Candi non-religius, candi sekuler atau tidak jelas sifat atau tujuan keagamaan-nya, contoh: candi Ratu Boko, Candi Angin, gapura Bajang Ratu, candi Tikus, candi Wringin Lawang.
3.2.Jenis Berdasarkan hirarki dan ukuran
Dari ukuran, kerumitan, dan kemegahannya candi terbagi atas beberapa hirarki, dari candi terpenting yang biasanya sangat megah, hingga candi sederhana. Dari tingkat skala kepentingannya atau peruntukannya, candi terbagi menjadi:
1. Candi Kerajaan, yaitu candi yang digunakan oleh seluruh warga kerajaan, tempat digelarnya upacara-upacara keagamaan penting kerajaan. Candi kerajaan biasanya dibangun mewah, besar, dan luas. Contoh: Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Panataran.
2. Candi Wanua atau Watak, yaitu candi yang digunakan oleh masyarakat pada daerah atau desa tertentu pada suatu kerajaan. Candi ini biasanya kecil dan hanya bangunan tunggal yang tidak berkelompok. Contoh: candi yang berasal dari masa Majapahit, Candi Sanggrahan di Tulung Agung, Candi Gebang di Yogyakarta, dan Candi Pringapus.
3. Candi Pribadi, yaitu candi yang digunakan untuk mendharmakan seorang tokoh, dapat dikatakan memiliki fungsi mirip makam. Contoh: Candi Kidal (pendharmaan Anusapati, raja Singhasari), candi Jajaghu (Pendharmaan Wisnuwardhana, raja Singhasari), Candi Rimbi (pendharmaan Tribhuwana Wijayatunggadewi, ibu Hayam Wuruk), Candi Tegowangi (pendharmaan Bhre Matahun), dan Candi Surawana (pendharmaan Bhre Wengker).

16
a. Sektor Pendidikan
Untuk aspek pendidikan, Candi Lawang dapat ditinjau dari segi wujud fisik dan kandungan makna yang melekat di dalamnya. Khusus untuk pendidikan formal, pengenalan awal keberadaan Candi Lawang dijadikan sebagai bagian dari paket muatan lokal atau mata pelajaran terkait, khususnya sejarah kepada anak didik. Untuk itu diperlukan antara lain langkah berupa:
• koordinasi antara Dinas Parbud dengan Dinas Pendidikan
• penyusunan kemasan tulis tentang Candi Lawang sesuai dengan kebutuhanpendidikan
• menjajagi kemungkinan dimasukannya informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari kurikulum muata lokal
Sementara itu untuk pendidikan non formal, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
• memasukan informasi tentang Candi Lawang sebagai bagian dari data base pada instansi terkait, khusunya pengelola informasi di Kabupaten Boyolali
• penyuluhan dan pameran khusus mengenai hasil penelitian Candi Lawang
• menjajagi kemungkinan dilaksanakannya program archaeology goes to mall berupa kerja sama antara Dinas Parbud dengan pengelola Mall dalam rangka pameran potensi arkeologis di Kabupaten Boyolali termasuk hasil penelitian mutakhir, di area mall yang tentu sudah menjadi area publik yang ramai

• pembuatan dan penggandaan poster hasil penelitian Candi Lawang
• press release mengenai hasil penelitian Candi Lawang
b. Sektor Seni dan Budaya
Informasi dan wujud fisik Candi Lawang dalam batas tertentu dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi bagi pengembangan seni dan budaya di Kabupaten Boyolali. Beberapa hal yang patut dijajagi berkaitan dengan hal tersebut antara lain adalah:
• ragam hias yang terdapat pada bangunan Candi Lawang dapat dikonversi sebagaipola batik atau hal lain yang berkaitan dengan pengembangan seni
• aspek estetik Candi Lawang dikonversi menjadi model pada pengembangan kerajinan tembaga Tumang
• Menjajagi kemungkinan konversi teknologi konstruksi Candi Lawang dalam pengembangan model bangunan khusus yang berada pada bentang lahan yang kurang lebih sama di lereng Merapi
c. Sektor Kepariwisataan
Dalam aspek kepariwisataan, pengembangan Candi Lawang sebagai ODTW perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Integrasi dengan ODTW yang sudah dikembangkan, khususnya berkaitan dengan konsep
18
jalur Solo – Selo – Borobudur (SSB), baik berupa objek alamiah, objek seni dan budaya, maupun objek artifisial
• Penataan akses, khususnya sarana jalan menuju Candi Lawang yang harus diperbaiki
• Papan petunjuk diperjelas dan didistribusikan mulai dari gerbang SSB hingga lokasi candi
• Penyebaran informasi tentang Candi Lawang di titik-titik massa seperti hotel, restoran, dan biro perjalanan di Boyolali dan sekitarnya
• Pelibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan kepariwisataan
• Menjajaki kemungkinan pemasaran view Merapi – Merbabu dari lokasi Candi Lawang yang secara alami sangat potensial sebagai pemandangan alam yang mengagumkan.

3.Tahap-tahap Pembangunan Candi
________________________________________

Candi biasanya dibangun atas perintah dari seorang tokoh yang terpandang atau seorang raja. Seseorang yang memiliki keinginan untuk membangun candi disebut Yajamana (sponsor). Ia kemudian menghubungi kelompok Silpin (seniman sekaligus seorang pendeta) yang telah menjadi Acharryya.

19
Menurut kitab Nanasara-Silpasastra (kitab pedoman membangun candi), kelompok silpin dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Sthapati, sang arsitek perencana, yang berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan,
2. Sutragrahin ialah insinyur sipil atau ahli tekhnik sipil yang menjadi pemimpin umum,
3. Taksakha atau pemahat candi, dan
4. Vardhakin atau pengukir ornamen candi.
Hal pertama yang dilakukan oleh silpin adalah mencari lokasi yang tepat untuk membangun candi atau kuil, dibantu dengan ahli-ahli yang dapat menunjukkan tempat yang dimaksud. Lokasi-lokasi yang dianggap paling baik adalah yang dekat dengan sumber mata air. Sebab didaerah tersebut dipercaya tempat bermainnya para dewa dari kahyangan. Berikut lokasi yang paling baik menurut mereka:
• Dekat dengan sumber mata air,
• Dekat tepian sungai,
• Berada di sekitar lereng gunung yang bermata air, dan
• Lokasi terbaik dari yang terbaik adalah dekat dengan pertemuan 2 sungai.
Namun ada juga lokasi-lokasi yang dijauhi karena dipercaya membawa sial atau lokasinya susah untuk didirikan sebuah candi atau kuil, lokasinya antara lain:
• Lahan tempat atau bekas pembakaran mayat,
• Lahan paya-paya atau rawa-rawa, dan
• Lahan berbatu-batu.

20

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Candi Prambanan adalah salah satu candi di indonesia, untuk itu harus kita jaga dan lestarikan kebudayaan indonesia ini. Candi yang merupakan kebudayaan hindu-budha ini menarik wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.
Candi Prambanan ini adalah tempat dimana dahulu asal mula terbentuknya Candi ini begitu tragis dimana salah satu candi itu adalah patung Roro Jonggrang.
Melestarikan dan menjaga Candi ini adalah salah satu tugas kita semua. Seringkali kita lihat ada banyak sekali pencurian terhadap candi, untuk itu perlu diadakannya penjagaan agar candi-candi tidak dicuri.
Perlu ditegaskan candi-candi adalah barang purbakala zaman dahulu yang harus dilestarikan.

4.2 Saran-Saran

Kepedulian masyarakat perlu ada sebab dengan itu para wisatawan akan semakin banyak mengunjungi candi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan Candi tersebut diharapkan mampu bersosialisasi dengan wisatawan lokal atau wisatawan luar tentang keberadaan candi tersebut dan keunikan di candi tersebut.Dengan begitu para wisatawan akan merasa tertarik dan merasa puas setelah mengunjungi candi tersebut.
21

DAFTAR PUSTAKA

Murdiatmoko, Janu, handayani, Citra. 2011. Sociology 3 Advanced Learning. Bandung : Grafindo Media Pratama
Jason, Paul, 1988. Teori Sosiologi Klasik dan modern. Jakarta: Gramedia
WWW. Yogyakarta.go.id. Artikel kebudayaan Yogyakarta.